aspek aspek yang terdapat dalam latihan olahraga adalah
11 Latar Belakang. Psikologi Olahraga adalah Ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam aktivitas olahraga, dalam olahraga terdapat banyak gejala-gejala yang timbul pada kejiwaan atlet tersebut, gejala ini banyak timbul karena dalam olahraga prestasi terdapat kompetisi yang membuat semua atlit bersaing ketat untuk mendapatkan juara.
Secara mendasar, pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Dalam arti sempit pendidikan adalah pembelajaran yang diselenggarakan umumnya di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Sedangkan para ahli psikologi memandang pendidikan sebagai pengaruh orang dewasa
Pertamaialah melakukan aktiviti memanaskan badan, regangan otot dan kelonggaran sendi sebelum melakukan aktiviti yang lebih berat. Suhu badan boleh ditingkatkan dengan berlari. Berjoging selama tiga atau empat minit sudah mencukupi. Jika anda berada di sekolah, adalah lebih menyeronokkan jika berlari diadakan dalam bentuk permainan, contohnya
ReaksiAtau Reaction. Satu lagi unsur-unsur kebugaran jasmani yaitu reaksi atau reaction. Reaksi ini merupakan sebuah kemampuan dimana tubuh dapat tanggap terhadap rangsangan, gerakan, atau stimulus yang berasal dari orang lain. Untuk melatih reaksi ini maka Anda dapat menerapkan latihan seperti lempar tangkap bola.
senantiasaberada dalam keadaan yang dipersepsi mengancam. Kecemasan tidak dapat diketahui langsung tetapi dapat diketahui melalui gejala-gejala yang nampak. Menurut Calhoun dan Acocella (1995 ), aspek-aspek kecemasan dapat dikemukakan dalam tiga aspek, yaitu: a. Aspek emosional Aspek emosional adalah komponen kecemasan
누누티비 다운로드. Mengawali tulisan Latihan Keterampilan Mental LKM bagi atlet dalam konteks pembinaan olahraga usia muda sebagaimana yang menjadi tema tulisan ini, perlu kiranya terlebih dahulu saya sampaikan tentang kedudukan dan kajian LKM dalam Psikologi Olahraga di Indonesia. Karena kaitan antara LKM dan pembinaan prestasi atlet usia muda tidak bisa dilepaskan dari peran dan kedudukan Psikologi Olahraga sebagai bagian dari Ilmu Keolahragaan yang telah nyata memberikan kontribusi dalam keberhasilan pembinaan olahraga. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional secara eksplisit menegaskan bahwa “olahraga prestasi adalah olahraga yang membina dan mengembangkan atlet secara terencana, berjenjang dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk mencapai prestasi dengan dukungan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Keolahragaan”. Tersirat dalam batasan itu bahwa olahraga prestasi merupakan sebuah proses dari suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen. Salah satu komponen untuk mewujudkan pembinaan prestasi adalah membina olahraga usia muda dengan dukungan Ilmu Keolahragaan. Ilmu Keolahrgaan sebagai ilmu yang berdiri sendiri, pada hakikatnya bukanlah suatu ilmu yang mono dicipline, ia bukan hanya kumpulan, tetapi sebuah algamasi dari berbagai sub-disiplin ilmu. Secara epistimologi isi pengetahuan dalam Ilmu Keolahragaan hakikatnya merupakan batang tubuh body of knowledge ilmu keolahragaan sendiri Mutohir, 2013. Ada tujuh bidang teori utama ilmu keolahragaan, yaitu Psikologi Olahraga, Kesehatan Olahraga, Biomekanika Olahraga, Pedagogi Olahraga, Sosiologi Olahraga, Sejarah Olahraga, dan Filsafat Olahraga. Kajian dan penerapan ilmu keolahragaan tersebut di dunia internasional telah memberikan kontribusi nyata pada pembinaan dan peningkatan prestasi atlet dan mempromosikan pemahaman tentang masalah universal dalam olahraga dan kesehatan. Crocker 2016, menegaskan untuk menciptakan prestasi olahraga harus memahami dan melibatkan banyak subdisiplin dalam ilmu olahraga termasuk Psikologi Olahraga. Sebagai sebuah ilmu, Psikologi Olahraga merupakan bidang yang relatif muda dibandingkan dengan bidang ilmu yang lain Haag, 1994; Chia & Chiang, 2010. Psikologi Olahraga di Indonesia merupakan cabang psikologi yang baru, begitu juga di dunia internasional Singgih, 2008. Kajian dan arti penting Psikologi Olahraga bagi pembinaan olahraga prestasi baru eksis tahun 1965 bersamaan dengan kongres pertama para pakar Psikologi Olahraga dunia yang diselenggarakan di Roma, Italia. Kongres tersebut telah melahirkan International Society of Sport Psychology ISSP suatun wadah pertama organisasi profesional yang ditujukkan untuk mengembangkan dan mempromosikan Psikologi Olahraga sebagai disiplin ilmu, kongres tersebut juga telah mendeklarasikan bahwa “sport need psychology” Weinberg & Gould, 2015. Sejak deklarasi itu kajian Psikologi Olahraga khususnya di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa semakin meningkat, dan telah tumbuh kesadaran di kalangan para pembina dan pelatih, bahwa pembinaan olahraga tidak mungkin berkembang optimal tanpa melibatkan Psikologi Olahraga. Papaioannou & Hackfort 2014, menyatakan, konsultan psikologi olahraga di China, Amerika Serikat, dan Brasil memberikan layanan yang komprehensif kepada para atlet nasional mereka dalam persiapan Olympiade. Disiplin ilmu terapan ini di dunia internasional merupakan komponen penting dari Ilmu Keolahragaan Crocker, 2016, serta diakui secara luas sebagai satu disiplin Ilmu Keolahragaan yang digunakan para profesional di seluruh dunia dalam bentuk LKM terstandar yang telah memenuhi ketentuan kompetensi profesional Tenenbaum et al., 2003. Latihan keterampilan mental menjadi fokus utama untuk penelitian dan praktik dalam Psikologi Olahraga. Beberapa peristiwa menunjukkan profesionalisasi Psikologi Olahraga telah bergeser dari disiplin penelitian akademis ke bidang profesional interdisipliner yang menawarkan layanan kepada stakeholders Tenenbaum & Eklund, 2007. Metode dan teknik yang merupakan elemen standar LKM awalnya berasal dari berbagai sumber, sebagian besar dalam psikologi mainstreams. Area ini diantaranya modifikasi perilaku, teori dan terapi kognitif, terapi emosi rasional, kontrol perhatian Weinberg, & Gould, 2015. LKM merupakan bagian dari pengetahuan disiplin Psikologi Olahraga yang dapat diterapkan sebagai sebuah intervensi pelatihan dalam olahraga dan latihan Andersen, 2005. Dewasa ini semakin banyak penelitian di negara-negara maju untuk menyelidiki pengaruh LKM pada atlet usia muda Fortes, et al., 2018, dan telah tumbuh kesadaran diantara mereka bahwa atlet muda dianggap basis kajian yang perlu dikembangkan secara khusus oleh praktisi psikolog olahraga. Di sisi lain terdapat keterbatasan penelitian dan bukti empirik bahwa penyusunan program LKM telah berdasar pada konsep Psikologi Olahraga yang benar, serta kemampuan pelatih menggunakan LKM dalam meningkatkan kinerja dan pengembangan pribadi atlet usia muda juga masih terbatas Henriksen et al., 2014, ke depan perlu mencari cara terbaik untuk menyesuaikan program LKM dengan kebutuhan atlet muda tersebut dan dalam jangka panjang perlu ada evaluasi yang tepat Ong & Griva, 2017. Masih banyak keterbatasan kajian aspek LKM untuk atlet usia muda, pembahasan tentang LKM dan pembinaan olahraga usia muda didekati dari sudut Ilmu Keolahragaan tidak bisa lepas dari kajian Psikologi Olahraga. Psikologi Olahraga di atas semua itu merupakan sebuah ilmu yang mengkaji perilaku individu manusia dalam konteks olahraga. Kajian perilaku manusia dalam konteks olahraga adalah persoalan kompleks yang penting. Psikologi Olahraga merupakan kajian yang kompleks karena dalam berbagai literatur mutahir Psikologi Olahraga itu telah membagi ke dalam kajian cukup luas, seperti aspek pribadi, lingkungan, dinamika tim, peningkatan prestasi, kepemimpinan olahraga, peningkatan kualitas kesehatan, perkembangan, kebahagiaan hidup, perkembangan karakter, tumbuh kembang anak, ginetika dan kinerja gerak, ketangguhan mental, otak dan respon latihan, kesadaran dalam olahraga, kebiasaan dan perilaku berolahraga Tenenbaum & Eklund, 2020. Psikologi Olahraga penting, karena aspek mental merupakan faktor yang menentukan keberhasilan dalam pembinaan olahraga dan kinerja atlet. Akan tetapi fakta empiris dalam tataran praktis sangat sering kita saksikan atlet usia muda mengaitkan penampilan buruk mereka dengan faktor mental seperti kehilangan konsentrasi akibat berada dibawah tekanan. Kesalahan umum yang dilakukan oleh pelatih untuk memperbaiki kinerja buruk itu dengan menambah jam latihan fisik. Ini merupakan sebuah refleksi para pelatih masih belum memahami psikologi olahraga sebagai sebuah ilmu terapan. Paparan sebagaimana tersebut di atas memberi pengetahuan kepada kita bahwa untuk memahami perilaku manusia dalam konteks pembinaan olahraga usia muda, secara mental harus dilihat dari berbagai dimensi. LKM merupakan bidang kajian Psikologi Olahraga yang bersifat teknis namun sangat strategis untuk meningkatkan kinerja atlet. Pemahaman yang komprehensif tentang Psikologi Olahraga akan mendasari pemahaman dan arti penting bagi para pelatih dalam menerapkan LKM untuk pembinaan dan meningkatkan kinerja atlet usia muda. Penting bagi para pelatih untuk memahami bagaimana pengetahuan LKM yang diperoleh secara ilmiah hadir serta mampu memaknai cara kerjanya. LKM bagian penting dari Psikologi Olahraga sebagai sebuah ilmu, dan merupakan sesuatu yang dinamis yang terus menerus membutuhkan pengkajian. LKM dalam konteks Psikologi Olahraga juga bukan sekadar akumulasi fakta yang ditemukan melalui pengamatan rinci, tetapi lebih dari itu merupakan proses pembelajaran tentang pemahaman perilaku manusia dalam konteks olahraga yang diungkap melalui penyaringan pengetahuan yang sistematis, terkontrol, dan empiris, yang diperoleh melalui pengalaman empirik dan kajian teoretik. Peranan dan arti penting penerapan LKM agar dapat berjalan dengan tepat harus dikaitkan dalam kedudukan Psikologi Olahraga sebagai ilmu pengetahuan, yang setidaknya mencakup tiga hal. 1 Eksplanatif, yaitu menjelaskan dan memahami gejala tingkah laku manusia berolahraga karena tindakan dan perbuatan yang tampak pada dasarnya tidak dapat lepas dari sikap yang tidak tampak yang didorong oleh banyak faktor mental lainnya seperti sifat, motif, pemikiran, perasaan, pengalaman, dan situasi. 2 Prediksi, yaitu meramalkan kemungkinan yang dapat terjadi dalam olahraga sehingga lebih siap menghadapi hal-hal yang mungkin terjadi. Prediksi yang tepat didasarkan atas pengalaman empirik dan analisis deduktif dengan menerapkan teori-teori yang tepat, dan untuk prediksi yang tepat perlu ditunjang dengan pengetahuan tentang tes, pengukuran, dan evaluasi. 3 Mengontrol, yaitu mengendalikan gejala-gejala perilaku dalam olahraga yang dapat menjurus ke hal-hal yang tidak menguntungkan perkembangan atlet. Untuk mengontrol gejala perilaku yang dapat berakibat negatif perlu ditunjang data yang akurat, dan penguasaan teknik treatment yang tepat. Penerapan LKM dalam pandangan Psikologi Olahraga pada atlet usia muda, tentunya memiliki tujuan untuk mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksi, dan memungkinkan kontrol perilaku yang bermuara pada kebahagian dan peningkatan kinerja. Urgensi LKM bagi Peningkatan Kinerja Atlet Usia Muda Penampilan kinerja puncak para atlet sangat didukung oleh keterampilan mental yang sangat berenergi namun tetap rileks secara fisik dan mental. Dalam kondisi ini atlet benar-benar fokus pada aktivitas dan dapat menjalankan tugas gerak dengan mudah secara otomatis. Di sisi lain kinerja buruk sering dikaitkan dengan kondisi mental yang buruk seperti kurang gairah, kurang percaya diri, kehilangan konsentrasi. Keadaan ini terjadi biasanya pada atlet dalam kondisi penuh tekanan. Tekanan tinggi akan mengakibatkan kesulitan yang lebih besar sebagai dampaknya terjadi kekakuan perhatian, sukar untuk belajar, mengingat dan melaksanakan perilaku terampil. Fenomena negatif ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pembinaan atlet usia muda. Sesungguhnya sudah ada pemahaman pada pelatih dan atlet bahwa keterampilan fisik perlu dilatih secara teratur dan disempurnakan melalui ribuan pengulangan. Serupa dengan keterampilan fisik, keterampilan mental juga harus dipraktikkan secara sistematis. Pelatihan fisik tidak cukup membuat atlet unggul dalam sebuah kompetisi, jika elemen kunci lainnya yaitu mental atlet tidak dipersiapkan dengan sempurna sesuai dengan kebutahan dan tantangannya Massimiliano, 2019. Ketangguhan mental merupakan sebuah keterampilan mental yang harus dimiliki atlet. Atlet yang memiliki ketahanan mental berarti atlet tersebut memiliki keterampilan mental yang baik untuk menghadapi berbagai tekanan. Ketahanan mental bukanlah sesuatu yang diwariskan, tetapi aspek mental akan berkembang melalui pengalaman yang harus dipelajari. Vealey 1988, menegaskan LKM sebagaimana layaknya latihan fisik, harus diajarkan dan dipelajari. LKM yang diimplementasikan secara paralel dengan program pelatihan fisik, memerlukan tingkat keterlibatan yang tinggi oleh atlet untuk mencapai kinerja optimal Dosil et al., 2016. Di beberapa negara Asia yang unggul dalam prestasi olah- raganya seperti Jepang, China, dan Korea Selatan untuk persiapan mengikuti event-event besar seperti Olympiade dan Asian Games, telah mengkaji dan menerapkan LKM sebagai bagian yang tak terpisahkan dari aplikasi Psikologi Olahraga dalam pembinaan olahraganya. Tidak demikian halnya perkembangan Psikologi Olahraga dibelahan bumi lainnya seperti di Afrika, Amerika Tengah, dan Indonesia berjalan lambat Crocker, 2016; Singgih, 2008. Di Indonesia, pentingnya aspek Psikologi Olahraga belum disadari oleh pembina dan pelatih olahraga. Mereka lebih dominan memberikan latihan fisik dan teknik, melupakan LKM James & Apta, 2017. Padahal kita mengetahui bahwa dalam proses pembinaan atlet usia muda secara mental banyak mengalami masalah. Di antaranya tekanan selama keikutsertaan mereka dalam latihan dan kompetisi. Karenanya selama proses pembinaan usia muda memerlukan pengembangan aspek keterampilan mental. LKM yang dilakukan secara konsisten dan sistematis selain dapat meningkatan kinerja juga dapat meningkatkan rasa senang para atlet usia muda Weinberg & Gould, 2015. Program LKM yang dilakukan terhadap pemain tenis remaja dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam mengatur fokus dan kontrol emosional Dohme et al., 2020. Begitu juga penelitian pada atlet taekwondo yang dipersiapkan terjun di Olympiade meyimpulkan bahwa LKM dapat meningkatkan kinerja Lim, & O’Sullivan, 2016. Atas dasar inilah dewasa ini pelatih di negara-negara maju semakin menyadari arti penting Psikologi Olahraga dan perannya dalam membantu atlet untuk mempelajari cara mengelola aspek mental dalam permainan atlet usia muda, juga lebih dari itu LKM dapat menjadi alat yang ampuh untuk meningkatkan kemampuan atlet usia muda. Jika salah satu prinsip filosofi kepelatihan adalah agar atlet menikmati pengalaman dan memiliki mental yang baik, maka LKM dapat memfasilitasi perkembangan pribadi atlet Burton & Raedeke, 2008. Perkembangan Atlet Usia Muda dan LKM Diberbagai negara, seperti di Amerika Serikat, diperkirakan ada 48 juta orang anak muda berusia antara 5 dan 18 tahun ambil bagian dalam olahraga. Di Inggris Raya sekitar 39% anak-anak usia 5–16 tahun aktif berolahraga. Lebih dari 5 juta waraga Jerman berusia antara 7 dan 14 tahun telah memulai pelatihan formal melalui klub-klub sepakbola. Program serupa dapat ditemukan di sebagian besar negara lain, bahkan di negara yang secara ekonomi miskin dan negara berkembang. Di Indonesia berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia WHO, yang dirilis 20 November 2019 menyebutkan bahwa anak usia 11-17 tahun aktif berolahraga kurang 20%, sedangkan angka partisipasi olahraga anak usia 10 tahuh ke atas mencapai 27, 61 persen LeUnes, 2011; Quick et al., 2010; WHO, 2019; BPS, 2015. Dari data ini membuktikan bahwa secara global olahraga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan anak usia muda. Umumnya pada anak, puncak partisipasi olahraga terjadi antara usia 10 tahun dan 13 tahun dan kemudian terus menurun hingga usia 18 tahun. Usia 10 sampai 13 tahun ini merupakan masa kritis bagi anak-anak dan memiliki konsekuensi penting pada harga diri dan perkembangan sosial mereka Santrok, 2012. Hurlock 2003, membagi remaja menjadi 3 kelompok usia tahap perkembangan, early adolescence remaja awal dengan rentang usia 12 sampai 15 tahun, middle adoelescence remaja pertengahan, dengan rentang usia 15 sampai 18 tahun dan late adolescence remaja akhir berkisar pada usia 18 sampai 21 tahun. Atlet muda remaja awal diklasifikasikan sebagai usia muda awal dalam rentang usia 12 sampai 15 tahun. Secara fisik, atlet mengalami permulaan masa pubertas, yang melibatkan pertumbuhan yang cepat, pematangan seksual, dan bentuk tubuh serta perubahan komposisi Horn & Butt, 2014. Akibatnya, performa keterampilan olahraga para atlet menjadi lebih canggung dan tidak terkoordinasi saat mereka mengatur perubahan pola gerak tubuhnya. Secara kognitif, atlet lebih mampu merefleksikan diri dan mulai membentuk identitas diri Horn, 2004. Mereka mengembangkan kepercayaan diri, tetapi dapat dipengaruhi oleh peningkatan keterlibatan sosial dan hasil perbandingan dengan teman sebaya. Gejolak emosional mungkin lebih sering terjadi karena emosi kompleks berkembang selama masa pubertas. Di sisi lain atlet remaja awal itu mulai menganggap persetujuan dari teman sebaya lebih penting daripada persetujuan orang tua atau orang dewasa lainnya, mereka mulai mengembangkan kemampuan untuk menilai kompetensi mereka sendiri Vealey & Chase, 2016. Pelatih harus mengenali perubahan perkembangan yang terkait dengan pubertas, dan pentingnya bekerja dengan kondisi mereka, daripada melawan perubahan tersebut. Pandemi dan gejolak emosi sering kali merupakan hasil sampingan dari peningkatan kesadaran diri dan perkembangan emosi. Dan, atlet usia remaja awal ini lebih sadar akan pikiran mereka sendiri dan pikiran orang lain, mereka mungkin lebih sadar diri dan berjuang untuk tampil. Pelatih memiliki tanggung jawab untuk membantu atlet pada rentang usia ini belajar mengelola emosi mereka dari pada menghukum yang akan terjadi pemberontakan dalam pengelolaan olahraganya. Atlet usia remaja pertengahan diklasifikasikan berada pada rentang usia 15 sampai 18 tahun. Secara fisik, perubahan yang dibawa masa pubertas mulai melambat. Namun, atlet muda remaja pertengan ini belum mencapai kedewasaan, perubahan bentuk dan komposisi tubuh cenderung berlanjut Horn & Butt, 2014. Secara kognitif, atlet menjadi pemikir multidimensi, yang dapat mempertimbangkan berbagai sumber informasi. Pemikiran dan perilaku atlet pada usia ini terkadang tidak konsisten. Selain itu, atlet muda pada rentang usia ini memiliki pemahaman yang lebih besar tentang berbagai identitas yang mereka pegang dan deskripsi dirinya lebih akurat dan menunjukkan lebih banyak pengendalian diri Guerra & Bradshaw, 2008. Dengan memudarnya pengaruh pubertas pada atlet rentang usia ini, ledakan emosi yang dialami selama awal masa muda menurun dan mereka lebih mampu untuk memahami dan mengekspresikan perasaannya. Dengan demikian, atlet usia remaja pertengahan ini cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman sebaya dan terlibat dalam hubungan yang lebih dewasa dengan teman sebaya. Pelatih yang menangani usia remaja pertengahan akan mengenali atlet yang sedang berkembang terkadang tampak serupa dengan orang dewasa. Perlu diingat bahwa atlet usia remaja pertengahan merupakan atlet muda yang sedang berkembang secara fisik, sosial, dan mental. Pelatih perlu mempertimbangkan untuk membantu mereka memahami dan mengatur pikiran serta perasaannya yang semakin kompleks dalam olah-raga. Urgensi Peran Pelatih dalam Menerapkan LKM International Council for Coaching Excellence ICCE, sebuah organisasi nirlaba internasional yang memiliki misi mengembangkan pembinaan olahraga secara global, menyatakan ada jutaan pelatih olahraga di hampir 200 negara ICCE, 2018. Pelatih memiliki pengaruh yang luar biasa dan berada dalam posisi untuk membantu atlet usia muda mengembangkan keterampilan yang diperlukan dalam situasi penuh tekanan yang dialami mereka Zakrajsek et al., 2017, secara tradisional, program pelatihan dan sertifikasi pembinaan dan pendidikan formal profesi pelatih lebih memfokuskan perhatian pada peningkatan kemampuan kinerja fisik daripada meningkatkan kinerja mental pada atlet usia muda Gould et al., 2006. Agar dapat menjelaskan mengapa pelatih atlet usia muda cenderung memfokuskan pada pengem- bangan keterampilan fisik, karena pengetahuan mereka tentang LKM tidak memadai padahal pengetahuan pelatihan fisik saja tidak cukup untuk menjadi pelatih yang komprehensif Côté & Gilbert, 2009. Pelatih atlet usia muda tidak diharapkan menjadi ahli dalam melatih keterampilan mental, akan tetapi mereka harus mempertimbangkan perkembangan atlet secara keseluruhan saat merancang, menerapkan, dan mengevaluasi praktik latihan dan kompetisi ICCE, 2018. Pelatih memiliki kedudukan strategis untuk membantu atlet usia muda belajar bagaimana mengatur pikiran, emosi, dan perilaku dalam pengalaman olahraga mereka McGuire, 2012. Atlet usia muda selama proses latihan penting untuk dibentuk dan ditingkatkan aspek psikogisnya melalui LKM yang diterapkan dalam sesi latihan, yang diimplementasikan secara paralel dengan program pelatihan fisik Dosil et al., 2016. Di Indonesia dengan meningkatnya partisipasi olahraga dalam program mandiri, klub-klub olahraga, dan klub-klub olahraga yang didanai dan dikelola oleh perusahaan-perusahaan besar maka pembinaan yang berkualitas sangat penting untuk memastikan pengaruh positif yang diperoleh dari partisipasi olahraga usia muda, dan ada kebutuhan besar untuk lebih memahami optimalisasi peran pelatih yang menangani atlet usia muda. Pengembangan karakter, kepemimpinan, sikap dan perilaku sportif, tidak terjadi secara ajaib melalui partisipasi olahraga semata. Manfaat nilai-nilai positif dari olahraga tersebut keberhasilannya sangat tergantung atas peran pelatih yang kompeten serta menjadi role model yang dapat memberi pengalaman dan contoh positif pada anak-anak Weinberg & Gould, 2015. Begitu juga dalam menerapkan LKM pada atlet usia muda keberhasilannya sangat ditentukan oleh peran pelatih. Urgensi Pelatih Memahami Mental Atlet Usia Muda Dewasa ini hampir terjadi di seluruh dunia bahwa pada program olahraga atlet usia muda seperti di pusat-pusat pelatihan olahraga, banyak diantara mereka yang terpapar stress oleh situasi olahraga dan jumlahnya semakin meningkat Dohme et al., 2017. Seiring dengan perjalanan waktu olahraga telah berubah menjadi lingkungan yang membuat stress dan menghilangkan banyak kesenangan bagi anak usia muda LeUnes, 2011. Ada tanggung jawab pada pelatih atlet usia muda untuk mempelajari dan membantu meningkatkan keterampilan mentalnya agar mereka mampu mengatasi stress dan dapat meningkatkan perkembangan fisik, sosial, dan mentalnya. Para pakar bidang Psikologi Olahraga menyarankan agar atlet usia muda dengan keterampilan dan karakteristik mental yang dimilikinya perlu difasilitasi dan dikembangkan dengan baik agar stress dan masalah mental lain- nya yang berpotensi terjadinya drop out dini juga dapat dihindari Henriksen et al., 2010 Sebuah studi mendalam terhadap 50 anak dengan rentang usia 10 sampai 18 tahun yang drop out dari aktivitas olahraga, menyebutkan penyebabnya karena adanya faktor negatif seperti ketidaksukaan pada pelatih, kegagalan dalam menguasai teknik olahraga, aktivitas olahraga tidak menggembirakan, dan adanya tekanan berlebihan. Hasil penelitian juga menunjukkan, pelatih dan teman satu tim adalah dua kelompok paling berpengaruh pada anak usia muda untuk mengambil keputusan drop out dini dari olahraga Weinberg & Gould, 2015. Pelatih dan pemimpin olahraga remaja lainnya harus peka terhadap masalah ini saat bekerja dengan atlet usia muda. Dalam banyak kasus, pelatih atlet usia muda telah me- mainkan peran besar dalam membimbing mereka, tetapi pelatih kurang memahami kebutuhan anak-anak. Selain itu, mereka sering tidak tahu bagaimana harus berurusan dengan orang tua pemain mereka LeUnes, 2011. Kondisi ini tidak menguntung- kan karena keterampilan mental yang berkembang juga aspek mental lainnya seperti disposisi sifat hanya dapat dioptimalkan melalui LKM yang diberikan sejak usia muda agar potensi pribadi atlet itu berkembang baik Dohme et al., 2017. Semakin jelas bahwa kedudukan Psikologi Olahraga sebagai sebuah ilmu keolahragaan dan pembinaan aspek mental melalui LKM pada atlet usia muda adalah suatu keniscayaan agar potensi mental mereka dapat berkembang dengan baik, sehingga mampu mengatasi berbagai stress dan masalah mental selama proses pembinaan menuju atlet yang berhasil. Pengalaman saya selama empat tahun terakhir di lapangan dalam rangka menyebarluaskan pengetahuan tentang program LKM pada guru-guru dan sekaligus pelatih ekstra kurikuler olahraga di lima kabupaten/kota di DIY, pertanyaan tentang kapan dan aspek mental apa yang tepat diberikan pada anak-anak selalu muncul. Ini suatu indikator kuat bahwa para pelatih usia muda belum memahami tentang bagaimana penerapan LKM pada anak usia muda. Tremayne & Newbery 2005 pun menyampaikan, dalam diskusi tentang isu perkembangan mental anak melalui LKM kajiannya masih sangat terbatas. Sehingga belum dipahami dengan jelas aspek mental apa yang dapat ditingkatkan melalui LKM dan pada rentang usia berapa yang tepat anak-anak mulai bisa menerima LKM. Dalam konteks ini teori perkembangan kognitif dari Piaget 1958 dapat dijadikan salah satu rujukkan utama untuk menentukan kapan anak-anak sesuai dengan perkembangannya siap menerima LKM. Piaget, membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi semakin canggih seiring pertambahan usia. Berdasar teori dari Piaget ini anak usia 12 tahun dalam tahap operasional formal, yaitu memiliki kemampuan berpikir abstrak, bernalar logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia Piaget,1958. Sehingga usia 12 tahun adalah tepat untuk memulai menerima LKM karena telah memiliki kemampuan berpikir abstrak, bernalar logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang ada, terutama LKM yang menggunakan instruksi verbal. Apek keterampilan mental adalah kualitas yang merupakan dasar keterampilan mental, maka konten aspek mental LKM yang sesuai untuk anak usia muda adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan dengan cermat. Kirschenbaum 2005 menjelaskan bahwa keterampilan mental dasar adalah sumber daya intrapersonal yang merupakan dasar keterampilan mental untuk mencapai sukses dalam olahraga. Keterampilan mental dasar meliputi motivasi, kesadaran diri, harga diri, berpikir produktif, dan kepercayaan diri. Keterampilan mental dasar juga meliputi ko- mitmen, motivasi, kepercayaan diri dan ahraga diri Hodge, 2001. Khsusus aspek mental bagi anak usia muda Vealey 2007, merekomendasikan aspek keterampilan mental itu diantaranya, goal mapping pemetaan tujuan, relaksasi dan imajeri. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa para pelatih telah menerapkan LKM pada berbagai cabang olahraga dan hasil penelitian itu menemukan, penetapan tujuan, percaya diri dan konsentrasi merupakan tiga aspek mental yang paling sering diterapkan oleh pelatih dalam program LKM Grobbelaar, 2007. Latihan Keterampilan Mental berhubungan dengan teknik kognitif-somatik secara umum yang meliputi latihan mental, yaitu mental imagery dan visualisasi, latihan gerak visual, terapi kognitif, bio-feedback, relaksasi otot secara progresif, dan meditasi. Pengecualian untuk imajeri dapat dikatakan baik sebagai psychological methods maupun psychological skill Cox, 2012. Konten keterampilan mental sangat beragam aspeknya dan harus diberikan kepada atlet sesuai dengan kebutuhannya, dengan menggunakan berbagai metode dan teknik latihan yang tepat. Beragam konten aspek keterampilan mental yang bisa diterapkan melalui metode LKM selama proses pembinaan olahraga. Lesyk, menyatakan setidaknya ada sembilan aspek keterampilan mental yang spesifik yang berkontribusi terhadap keberhasilan dalam pembinaan olahraga, yaitu 1 sikap; 2 motivasi; 3 tujuan dan komitmen; 4 keterampilan sosial; 5 self-talk; 6. imajeri; 7 mengelola kecemasan yang efektif; 8 mengelola emosi yang positif; dan 9 menjaga konsentrasi Dimyati, 2018. Masing-masing dari sembilan aspek mental, antara aspek psikologis dalam setiap level saling terkait dan berkesinambungan satu sama lainnya. Tiga level itu hakikatnya merupakan tingkatan pembinaan keterampilan mental jangka panjang, selama proses pembinaan, persiapan mental pra-kompetisi dan selama kompetisi untuk unjuk kerja yang optimal. Level I-Keterampilan mental ini; merupakan dasar yang luas dan kuat yang harus ditanamkan pada atlet usia muda sejalan dengan pembentukan keterampilan teknik dasar gerak untuk mencapai tujuan jangka panjang berlatih, dan mempertahankan praktik latihan sehari-hari. Konten aspek-aspek mental ini diperlukan dan harus ditanamkan dalam keseharian berlatih pada atlet usia muda sebagai pondasi pembentukan sikap positif terhadap olahraga. Level II–Keterampilan mental ini digunakan dalam rangka persiapan untuk memperoleh kinerja yang optimal. Latihan keterampilan aspek-aspek mental ini digunakan untuk pra-kompetisi dimulai, atau segera sebelum melakukan aktivitas tertentu untuk membantu meningkatkan penguasaan teknik keterampilan gerak yang diharapkan agar lebih optimal sebelum memasuki kompetisi. Sedangkan, Level III- Keterampilan psikologis ini digunakan oleh atlet selama perilaku kinerja aktual atau saat kompetisi. Ada beberapa catatan agar kesembilan keterampilan mental yang diperlukan itu berjalan baik, yaitu 1 keterampilan itu dapat dipelajari dan ditingkatkan melalui instruksi dan pelatihan praktik keterampilan mental LKM; 2 harus disadari bahwa untuk memulai latihan mental itu perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu atlet; 3 harus dikembangkan rencana melatih dan meningkatkan keterampilan khusus yang perlu perbaikan bagi individu atlet; 4 secara berkala meninjau kembali kemampuan atlet dalam setiap keterampilan untuk menilai kemajuannya, dan 5 keterampilan mental sikap, motivasi, tujuan dan komitmen, serta keterampilan sosial merupakan dasar yang luas dan kuat yang harus ditanamkan pada atlet usia muda. Harapan Ke depan Dengan dimikian ingin ditegaskan dalam bagian penutup, bahwa setidaknya ada dua tantangan yang perlu diperhatikan, yaitu 1 bagaimana menjadikan Psikologi Olahraga menjadi bagian penting dalam pembinaan olahraga nasional; dan 2 bagaimana meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para pelatih tentang arti penting LKM sebagai alat dari Psikologi Olahraga untuk pembinaan dan meningkatkan ketangguhan mental para atlet usia muda. Adanya tantangan pertama tidak bisa dilepaskan dari kondisi Psikologi Olahraga di Indonesia yang merupakan ilmu pengetahuan baru. Psikologi Olahraga sebenarnya sama dengan Psikologi mainstreams yaitu sebagai ilmu pengetahuan yang memang relatif masih sangat muda dibandingkan ilmu-ilmu lainnya. Psikologi mainstreams itu baru muncul pada awal tahun 50-an di Indonesia dan Psikologi Olahraga di akhir tahun 60-an. Kajian dan pengembangan Psikologi maintreams setidaknya sejak awal telah dibidani dan dikawal serta terus di dukung oleh lima Perguruan Tinggi Negeri besar di Indonesia seperti UI, UGM, Unair, Undip, Unpad, yang membuka program studi atau jurusan dan mengelola serta pengembangkan Ilmu Psikologi secara khusus, ditambah puluhan lagi yang dikembangkan oleh PT-PT swasta. Sehingga dalam bidang-bidang tertentu, seperti Psikologi Klinis, Psikologi Pendidikan, Psikologi Perkembangan, Psikologi Sosial, Psikometri dll., dapat eksis dan terus berkembang yang pada gilirannya sebagai kajian Psikologi tersebut dapat menempatkan diri dan diterima sebagai bagian yang tidak terpisahkan bahkan terpadu dengan ilmu-ilmu lain. Namun tidak demikian halnya dengan Psikologi Olahraga yang perkembangnnya masih belum menggembirakan, dan para pengambil kebijakan di PT-PT besar yang memiliki Fakultas Psikologi sebagaimana saya sebutkan di atas masih belum memandang Psikologi Olahraga menjadi sesuatu yang penting untuk dikaji dan dikembangkan. Dari 4500 lebih PT baik negeri maupun swasta di Indonesia, belum ada yang secara khusus mengelola dan mengembangkan ilmu Psikologi Olahraga sebagai sebuah kajian dalam wujud Jurusan departemen. Kondisi ini secara tidak langsung berimplikasi terhadap perkembangan dan kemajuan Psikologi Olahraga di Indonesia. Karena kajian ilmu Psikologi Olahraga belum dikelola dan dikembangkan sebagai bagian yang penting di PT besar di Indonesia. Kondisi tersebut di atas bertolak belakang dengan apa yang terjadi di negara-negara maju, justru universitas-universitas ternama di negara maju, selain telah mengembangkan pusat-pusat kajian Psikologi Olahraga juga membuka dan mengembangkan bidang Ilmu Keolahragaan umumnya dalam bentuk jurusan dan fakultas, sebagai misal di Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Canada, dll., Dosil, 2006; Thomas & Nelson, 2001. Belum jelasnya lembaga pendidikan tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan program studi Psikologi Olahraga, memberi gambaran bahwa kajian Psikologi Olahraga belum menjadi prioritas kebijakan pemangku kepentingan olahraga nasional dan perguruan tinggi terkait khususnya serta masyarakat olahraga pada umumya. Kemampuan inovasi suatu bangsa dalam bidang olahraga terkait erat dengan kualitas sumber daya manusianya, yang berarti juga kualitas sistem pendidikan tingginya. Sangat wajar apabila perkembangan Psikologi Olahraga dan IPTEK olahraga di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Ini memberi sinyal ”lampu kuning” bahwa upaya untuk mencapai pengetahuan dan pengembangan Psikologi Olahraga, dengan cara yang lebih bernilai adalah sesuatu tantangan dan keniscayaan untuk diwujudkan di tanah air tercinta ini. Tantangan untuk melakukan pengembangan dan penggalian baru Psikologi Olahraga melalui program penelitian dengan berbagai dimensinya serta aplikasi metodologi yang berbeda memerlukan curah pemikiran segenap pengelola dan kualitas SDM PT penyelenggara pendidikan ilmu keolahragaan khususnya dan PT-PT yang membuka Fakultas Psikologi umumnya. Keberadaan berbagai program Doktor bidang Ilmu Keolahragaan yang dikembangkan oleh lembaga Pendidikan Tinggi eks IKIP diharapkan dapat mengembangkan tujuh bidang teori utama Ilmu Keolahragaan termasuk Psikologi Olahraga. Dalam realitasnya semuanya masih dihadapkan pada kendala-kendala yang menyangkut infra- struktur pendukung terutama yang terkait softwere. Dalam perpektif seperti itu, dukungan infrastruktur, dan kerja keras saja tidak cukup, tapi harus diiringi adanya visi dan aksi penataan dan pengembangan SDM dalam bidang Psikologi Olahraga. Lantas langkah apa yang dapat dilakukan untuk mencari jalan keluar menjawab tantangan tersebut di atas. Setidaknya ada dua upaya bisa dilakukan. 1 Menumbuhkan kesadaran kepada seluruh komponen yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam pembinaan olahraga tentang pentingnya kajian dan aplikasi Psikologi Olahraga dalam pembinaan olahraga prestasi dan pembinaan olahraga usia muda khususnya. Cara yang dapat ditempuh untuk mewujudkan hal ini melalui diseminasi hasil-hasil penelitian baik yang dilakukan di dalam negeri maupun di luar negeri, juga melalui kajian-kajian ilmiah lainnya yang dapat menyakinkan masyarakat yang terlibat dalam pembinaan olahraga atlet usia muda khususnya. 2. Meningkatkan SDM bidang Ilmu Keolahragaan khususnya Psikologi Olahraga. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengembangkan SDM yang berada di lembaga Pendidikan Tinggi Keolahragaan untuk mengambil program master atau Doktor dalam bidang sport science sport psychology di negara-negara maju di luar negeri. Juga dengan membuka dan mengembangkan program studi Psikologi Olahraga pada PTN besar maupun swasta yang mengelola dan mengembangkan ilmu Psikologi. Tantangan kedua terkait upaya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para pelatih tentang arti penting LKM sebagai alat untuk pembinaan dan meningkatkan ketangguhan mental para atlet usia muda. Dewasa ini para pelatih olahraga di Indonesia umumnya disuplai melalui dua jalur utama, yaitu 1 jalur formal yaitu lulusan dari PT yang mengembangkan akade- misi dan profesi sebagai pelatih, terutama sebelas LPTK eks-IKIP yang memiliki FIK/FPOK dan PT swasta lainnya; dan 2 upaya swadaya masyarakat kebanyakan mantan atlet yang mengikuti kursus-kursus kepelatihan yang diselenggarakan oleh induk-induk organisasi olahraga nasional maupun internasional. Dengan kondisi ini berarti perlu ada upaya yang sinergis dan sungguh-sunguh untuk mereposisi dan merevitalisasi kondisi maupun peran Psikologi Olahraga umumnya dan program LKM khususnya dalam kurikulum untuk lebih memperhatikan arti penting bobot muatan Psikologi Olahraga dan atau LKM sebagai bagian integral dari kurikulumnya. Sumber dari Pidato Pengukuhan Prof. Dr. Dimyati, sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Psikologi Olahraga pada Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta, dengan judul “Kedudukan Latihan Keterampilan Mental Dalam Psikologi Olahraga dan Urgensinya Bagi Pelatih Atlet Usia Muda di Indonesia”, Sabtu, 12 Desember 2020 Prof. Dr. Dimyati,
Senam artistik adalah senam yang dilakukan dengan menggabungkan beberapa gerakan salto dan putaran yang menghasilkan kombinasi gerakan indah. Senam artistik merupakan salah satu senam yang sanat digemari di Olimpiade. Hal ini dikarenakan gerakan senam yang begitu indah dan seolah dapat menghipnotis siapa senam artistik, terdapat beberapa aspek yang sangat mempengaruhi di dalamnya. Untuk lebih mudah memahaminya, berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai aspek-aspek dalam senam artistikAspek FisikSetiap jenis olahraga apapun, aspek fisik tentunya merupakan aspek yang paling utama. Seseorang akan dapat melakukan olahraga tersebut dengan baik jika persiapan fisik yang dimiliki juga sangat baik, termasuk senam senam artistik, terdapat banyak gerakan salto dan berputar yang membutuhkan banyak tenaga. Hal ini tentu harus diikuti pula dengan kesiapan fisik yang baik. Tubuh yang sehat dan kuat akan semakin mendukung kesempurnaan gerakan dalam senam bisa mendapatakan fisik yang baik, maka diperlukan latihan fisik yang cukup baik pula. Berlatih lari, lompat, dan latihan pendukung lainnya akan sangat baik dilakukan guna menunjang kesempurnaan gerakan dalam senam IntelektualDalam melakukan gerakan senam artistik, tidak hanya memerlukan kemampuan fisik yang memadai saja. Namun juga diperlukan kemampuan intelektual yang tinggi. Seorang atlet senam harus bisa memprediksi kemampuannya dalam melakukan lompatan, baik dalam memperhitungkan kekuatan tolakan, tempat pijakan, bahkan hingga berkonsentrasi pada gerakan intelektual inilah yang akan membantu seorang atlet mendapatkan gerakan yang baik dan tepat. Aspek intelektual juga berkaitan dengan kemampuan seseorang memikul tanggung jawab dalam menyelesaikan gerakan meskipun MoralitasSenam artistik juga harus didukung dengan aspek moralitas dari seorang atlet senam. Atlet senam harus bisa memiliki sifat sportif dalam mengikuti setiap pertandingan senam. Suatu pertandingan akan berjalan dengan baik dan sukses jika peserta yang ada di dalamnya memiliki sifat sportif dan semangat yang MentalitasGerakan artistik bukan hanya sekedar gerakan senam biasa tapi harus dijiwai dengan penuh semangat. Atlet senam harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi ketika melakukan gerakan senam artistik. Ia harus optimis dalam beberapa aspek dalam senam artistik. Keseluruhan aspek tersebut harus berjalan bersamaan agar setiap gerakan senam menjadi sempurna.
18 Latihan Pengertian Latihan Latihan adalah merupakan aktifitas olahraga yang sistematik dalam waktu yang lama, ditingkatkan secara progresif dan individual, yang mengarah kepada ciri – ciri fungsi fisiologis manusia sasaran yang telah ditentukan Bompa, 19834 Latihan merupakan suatu aktifitas yang dilakukan secara sistematik dan kontinyu dalam jangka waktu tertentu dalam mencapai sasaran. Tidak hanya berlatih sekali dua kali saja seorang berlatih dan berprestasi. Butuh waktu yang relatif lama hingga bertahun – tahun untuk mencapai prestasi olahraga yang maksimal. Tujuan utama pelatihan olahraga prestasi adalah untuk meningkatkan keterampilan atau prestasi semaksimal mungkin Tohar, 20041. Untuk mencapai prestasi dan tujuan, maka atlet harus berlatih, karena melalui latihan–latihan yang teratur pola hidupnya secara menyeluruh akan terbentuk. Oleh karena itu kata kunci untuk mencapai prestasi dan keunggulan dalam olahraga adalah ”berlatih dan berprestasi”. Terkait dengan itu, peran pelatih dan atlet sangat dominan untuk bersama-sama berupaya menemukan metode latihan yang lebih efisien. Aspek – Aspek Latihan Menurut Tohar 20042 memaparkan ada beberapa aspek latihan yang harus diperhatikan yaitu 19 Latihan Fisik Latihan fisik adalah latihan yang bertujuan untuk menguatkan kondisi fisik secara menyeluruh. Tanpa kondisi fisik yang baik atlet tidak akan dapat mengikuti latihan–latihan, apalagi untuk bertanding. Beberapa unsur kemampuan fisik dasar yang perlu dikembangkan adalah kelentukan, daya tahan, kelenturan, kelincahan, kecepatan gerak, kecepatan reaksi, daya tahan, koordinasi gerak dll. Latihan Teknik Latihan teknik bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan penguasaan teknik gerakan dalam suatu cabang olahraga. Penguasaan teknik– teknik dasar adalah sangat penting karena menentukan keterampilan dan kemahiran secara keseluruhan gerak dalam suatu cabang olahraga. Untuk bisa ahli dalam olahraga tersebut seseorang harus terampil melakukan beberapa teknik dasar. Latihan Taktik Latihan taktik bertujuan untuk mengembangkan dan menumbuhkan kemampuan daya tafsir pada atlet ketika melaksanakan kegiatan olahraga yang bersangkutan. Kegiatan yang dilakukan adalah strategi. Latihan Mental Latihan mental adalah latihan yang menekankan pada perkembangan psikologis terutama perkembangan kedewasaan maturitas dan emosional atlet. Keempat aspek tersebut sangat diperlukan oleh seorang atlet sehingga tidak boleh diabaikan. Latihan yang benar dengan mengembangkan semaksimal mungkin setiap aspek yang ada akan memungkinkan meningkatnya prestasi. 20 Program Latihan
Menurut Tohar 20042 memaparkan ada beberapa aspek latihan yang harus diperhatikan yaitu Latihan Fisik Latihan fisik adalah latihan yang bertujuan untuk menguatkan kondisi fisik secara menyeluruh. Tanpa kondisi fisik yang baik atlet tidak akan dapat mengikuti latihan–latihan, apalagi untuk bertanding. Beberapa unsur kemampuan fisik dasar yang perlu dikembangkan adalah kelentukan, daya tahan, kelenturan, kelincahan, kecepatan gerak, kecepatan reaksi, daya tahan, koordinasi gerak dll. Latihan Teknik Latihan teknik bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan penguasaan teknik gerakan dalam suatu cabang olahraga. Penguasaan teknik– teknik dasar adalah sangat penting karena menentukan keterampilan dan kemahiran secara keseluruhan gerak dalam suatu cabang olahraga. Untuk bisa ahli dalam olahraga tersebut seseorang harus terampil melakukan beberapa teknik dasar. Latihan Taktik Latihan taktik bertujuan untuk mengembangkan dan menumbuhkan kemampuan daya tafsir pada atlet ketika melaksanakan kegiatan olahraga yang bersangkutan. Kegiatan yang dilakukan adalah strategi. Latihan Mental Latihan mental adalah latihan yang menekankan pada perkembangan psikologis terutama perkembangan kedewasaan maturitas dan emosional atlet. Keempat aspek tersebut sangat diperlukan oleh seorang atlet sehingga tidak boleh diabaikan. Latihan yang benar dengan mengembangkan semaksimal mungkin setiap aspek yang ada akan memungkinkan meningkatnya prestasi. 20 Program Latihan Dalam suatu pembinaan olahraga dibutuhkan program yang sistematis dalam pencapaian prestasi maksimal. Program latihan yang diberikan merupakan suatu petunjuk akan perkembangan pembinaan yang dilaksanakan demi tercapainya tujuan maksimal. Manfaat program latihan 1 merupakan pedoman kegiatan terorganisir untuk mencapai prestasi puncak pada cabang olahraga. 2 untuk menghindari faktor kebetulan dalam mencapai prestasi puncak dalam olahraga. 3 efektif dan efisien dalam penggunaan waktu, dana dan tenaga untuk mencapai tujuan. 4 untuk mengetahui hambatan – hambatan dengan cepat dan menghindari pemborosan waktu, dana dan tenaga. 5 memperjelas arah dan tujan yang ingin dicapai. 6 sebagai alat kontrol terhadap tercapainya sasaran Tohar, 200432 Perkembangan fisik, pembinaan serta peningkatan prestasi hanya dapat dikembangkan melalui satu program latihan jangka panjang, oleh karena itu perubahan–perubahan organisasi mekanis neuro-physiologis perkembangan jaringan–jaringan tubuh tidak mungkin dengan jarak yang pendek Tohar, 200419 Dari dasar di atas berarti perkembangan tersebut membutuhkan waktu yang lama sekitar 8–10 bulan, maka jadwal latihan harus terbagi dalam beberapa tahapan atau musim latihan, sehingga dalam musim latihan pelatih dapat merencanakan dan menyusun program latihan dengan penekanan latihan pada satu aspek latihan. Pelatih Seorang pelatih harus seorang yang benar–benar mengerti dan mempunyai atikad baik dalam memajukan olahraga nasional, tidak ada motivasi karena mencari popularitas. Saat ini banyak sekali pembina olahraga yang bersedia mengurus olahraga karena untuk mendapatkan popularitas sehingga banyak yang terlantar setelah tokoh tersebut kehilangan motivasi karena tujuan atau motivasinya sudah tercapai. Pelatih olahraga adalah orang yang benar–benar mengerti olahraga. Pelatih merupakan seorang profesional yang bertugas membantu, membimbing, membina dan mengarahkan atlet terpilih, berbakat untuk merealisasikan prestasi maksimal dalam waktu yang sesingkat–singkatnya Anung Andang Wiratama, 2007. Kebanyakan pelatih adalah seorang mantan atlet yang berkecimpung dalam cabang olahraga tersebut. Dari pengalaman yang dimilikinya dan tentunya pengetahuan yang melengkapi dirinya menjadi modal pelatih profesional. Pelatih merupakan seseorang yang paling dekat dengan atlet. Keharmonisan diantaranya akan membawa dampak positif bagi tercapainya tujuan bersama. Secara umum peran dan tugas pelatih dikemukakan Harsuki Ed 2003, 370-371 sebagai berikut 1 Cermat menentukan sasaran atau tujuan latihan set goal. 2 Menetapkan tujuan latihan yang bersifat realistik. 3 Memilih metode, model–model latihan yang cocok untuk memenuhi kebutuhan setiap atlet. 22 5 Mencermati latihan pemansan warming up dan pencegahan cedera avoid injury. 6 Istirahat dan minum yang cukup. 7 Memanfaatkan aspek pembinaan psikologis. 8 Cermat dan terampil melakukan seni berkomunikasi. Sukses dan gagalnya seorang atlet di pertandingan, sedikit banyak dipengaruhi oleh peran pelatih dalam memotivasi atlet tersebut untuk mengikuti dan melaksanakan program latihan dengan sungguh–sungguh dan bertanggung jawab. Untuk itu, pelatih merupakan sosok yang sangat dibutuhkan dalam pencapaian prestasi atlet. Atlet Atlet merupakan faktor indogen dalam pencapaian prestasi maksimal diantara beberapa hal yang harus dimilik calon atlet profesional, seperti dipaparkan oleh Suharno 19864-5 sebagai berikut 1 Kesehatan fisik dan mental yang baik, terutama tidak penyakit jantung, paru – paru, syaraf dan jiwa. 2 Bentuk tubuh dan proporsi tubuh selaras dengan macam olahraga yang diikutinya. Setiap cabang olahraga menuntut tipologi fisik atlet yang berbeda-beda. 3 Kondisi fisik dan kemampuan fisik yang baik yang meliputi komponen kekuatan, daya tahan, kecepatan, kelincahan, kelentukan, keseimbangan, koordinasi, ketepatan, daya ledak, reaksi, stamina dan mobilitas. 4 Penguasaan teknik dasar yang sempurna, teknik menengah dan teknik–teknik tinggi. 5 Menguasai masalah–masalah taktik perorangan, taktik tim, pola–pola pertahanan dan penyerangan serta sistem–sistem bertanding. 6 Memiliki aspek kejiwaan dan kepribadian yang baik. Untuk mencapai prestasi semaksimal mungkin di samping memiliki prestasi fisik yang tinggi perlu motor penggerak dan pendorong dari aspek kejiwaan dan kepribadian. Misalnya daya fikir, kemampuan, perasaan, akal, disiplin, ketekunan dan tanggung jawab. Memiliki kematangan juara yang mantap artinya atlet tersebut dalam menghadapi pertandingan apapun macam dan kondisinya, selalu memperlihatkan keajegan prestasi cabang olahraga yang diikutinya. Organisasi Organisasi adalah keseluruhan proses pengelompokan orang – orang, alat– alat, tugas–tugas serta wewenang dan tanggung jawab sedemikian rupa sehingga terdapat suatu institusi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan yang utuh dan bulat dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya Soekardi, 2006. Organsisasi dalam olahraga berkembang sesuai dengan kebutuhan yang makin lama makin luas tujuannya, sehingga unsur-unsurnya harus diselesaikan makin banyak. Dalam suatu organisasi olahraga diperlukan aturan-aturan yang harus ditaati oleh semua anggota agar tujuan organisasi tersebut dapat tercapai, maka timbal Anggaran Dasar AD dan Anggaran Rumah Tangga ART, agar
aspek aspek yang terdapat dalam latihan olahraga adalah